Indahnya Keputusan Allah

Pernahkah kita merasakan sesuatu yang kita harapkan tidak tercapai? Apa yang kita rasakan ketika itu? Tentu rasanya sungguh menyedihkan. Tidak sedikit di antara kita yang akhirnya menyalahkan orang lain, atau bahkan menyalahkan Allah. Wal’iyadzubillah.
Namun pernahkah kita berpikir, bahwa di balik sebuah kegagalan ada hikmah besar yang Allah inginkan bagi kebaikan hamba-Nya. Bahkan kita juga sering mendengar perkataan bahwa “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.” Namun sepertinya semua itu hanyalah sebuah teori saja. Seandainya kita dapat menerapkan konsep ini, maka rasa optimis pasti akan mengalahkan sikap berputus asa.
Oleh karena itu, sejenak kita renungkan sebuah kaidah agung tentang indahnya keputusan Allah terhadap hamba-Nya dalam firman-Nya:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 216)
Juga dalam firman-Nya:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisa’: 19)
Dalam surat al-Baqarah ayat 216 di atas, Allah menjelaskan kewajiban jihad bagi setiap muslim. Tentunya ini merupakan hal yang berat kecuali bagi mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah. Karena jihad harus mengorbankan jiwa dan harta benda. Terlebih luka fisik yang diderita setelah peperangan membuat sebagian manusia takut untuk terjun ke medan perang. Namun di balik ini semua, ada sebuah hikmah besar berupa kemuliaan dan pahala yang besar di dunia dan di akhirat yang Allah janjikan.
Hal ini sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat alami ketika perang Badar. Sungguh terjadinya perang Badar merupakan pilihan yang berat bagi mereka. Karena tujuan mereka pergi ke Badar adalah untuk menghalau rombongan dagang kaum Quraisy yang baru pulang dari Syam dan bukan untuk berperang. Namun, mereka tetap pergi menghadapi kaum Quraisy yang kekuatannya jauh lebih besar dari kekuatan yang dimiliki kaum muslimin pada waktu itu. Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan kondisi mereka dalam firman-Nya:
كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ
 يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ
“Sebagaimana Tuhan-mu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (QS. al-Anfal: 5-6)
Namun berkat pertolongan dari Allah, kaum muslimin dapat mengalahkan pasukan Quraisy, dan Allah memberikan kepada mereka berupa kemuliaan dan kehormatan setelah terjadinya perang ini.
Adapun dalam surat an-Nisa’ ayat 19 di atas berbicara mengenai luka psikis yang terjadi akibat perceraian. Tentunya sebuah perceraian juga merupakan hal yang pahit yang dialami oleh pasangan suami istri jika memang ikatan pernikahan sudah tidak dapat dipertahankan lagi.
Dua ayat di atas menceritakan akan dua keadaan yang sulit yang dilalui seseorang yaitu berupa luka fisik dan psikis. Namun di balik keduanya Allah memiliki rencana yang terbaik bagi hamba-Nya yang mau bersabar dan mengambil hikmah di balik setiap musibah. Tapi betapa banyak di antara kita yang lalai akan hal ini dan hanya memandang dari satu sisi terjadinya suatu musibah.
Contoh lainnya adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Fir’aun. Ketika Fir’aun memerintahkan untuk membunuh seluruh bayi laki–laki yang lahir, hal ini membuat ibu Nabi Musa bingung akan nasib anaknya. Akhirnya dia memasukkan Nabi Musa ke dalam peti dan menghanyutkannya ke sungai sampai akhirnya peti yang membawa beliau ditemukan oleh istri Fir’aun yang  di kemudian  hari dia menjadikan Nabi Musa sebagai anggota dari keluarga mereka.
Apa yang dilakukan oleh ibu Nabi Musa  tentunya merupakan sebuah perkara yang sangat berat bagi seorang ibu. Bagaimana tega seorang ibu meletakkan anaknya, darah dagingnya ke dalam peti kemudian menghanyutkannya ke dalam sungai guna menghindar dari perintah penguasa yang zalim. Namun tak disangka bahwa kejadian tersebut akhirnya berbuah manis. Ini tergambar melalui ujung ayat 216 dari surat al-Baqarah di atas “Allah Maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Kesimpulan dari semua ini adalah sesuai dengan perkataan seorang penyair,
عَلى المَرْءِ أَنْ يَسْعَى إِلَى الخَيْرِ جُهْدَهُ          وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ تَتِمَّ المَقَاصِدُ
Seorang harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kebaikan
Bukan tugasnya untuk dapat menetapkan baiknya keberhasilan
 
Seseorang sudah seharusnya berserah diri kepada Allah secara total setelah berusaha sekuat tenaga dalam menggapai kebaikan yang dia inginkan dan tidak berputus asa di dalamnya. Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam firman-Nya mengenai larangan untuk berputus asa dalam menggapai rahmat-Nya tatkala menceritakan kisah Nabi Yaqub ‘alaihissalam dan anak-anaknya.
Firman-Nya:
 “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Jika nantinya kegagalan atau sesuatu yang diharapkan tidak tercapai, maka sebaiknya ia menghadirkan kaidah indah ini yaitu firman Allah:
 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)
Kemudian berusahalah untuk selalu berprasangka baik kepada Allah. Karena bisa jadi kegagalan yang engkau alami adalah kebaikan bagimu, dan bisa jadi keberhasilan dalam sebuah perkara yang engkau inginkan akibatnya lebih buruk bagimu. Tidak ada yang mengetahui semua ini kecuali Allah, karena “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”   ¶

Oleh :  Dagi

Buletin Al-Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s