MENGENAL SEKILAS TENTANG AGAMA SYI’AH (bagian 2)

Telah disebutkan dua akidah sesat agama Syi’ah, yaitu: Taqiyyah (halalnya berdusta) dan Akidah Bada’ (Allah memiliki sifat bodoh). Berikut kelanjutan beberapa akidah rusak mereka. Selamat menyimak.
 

3. Akidah Raj’ah (Reinkarnasi)

Maksud dari akidah Raj’ah ini adalah pembalasan dendam Imam Mahdi dan orang-orang yang bersama mereka atas musuh-musuhnya. Pimpinan musuh menurut apa yang mereka yakini adalah dua khalifah, sahabat, kekasih, dan kerabat dekat dan mereka berdua merupakan orang menegakkan daulah islamiyah setelahnya yaitu: Abu bakar dan Umar radiyallahu ‘anhuma. (Mas’alah at-Taqriib, hal. 340)
Imam Syi’ah al-Murtado -semoga Allah melaknatnya- berkata dalam kitabnya yang berjudul al-Maqoolat an-Nashiriyyah : “Sesungguhnya Abu bakar dan Umar akan disalib di atas pohon pada zaman Imam Mahdi atau Imam Dua Belas -merurut anggapan mereka-. Sebelum mereka berdua disalib, ketika itu pohon dalam keadaan basah, kemudian –setelah disalib- pohon tersebut menjadi kering.”
Kemudian al-Majlisi dalam bukunya yang berjudul Haqqul Yaqin dari Muhammad al-Baaqir mengatakan: “Jika Imam Mahdi telah turun ke bumi maka sesungguhnya dia akan menegakkan hukum atas ‘Aisyah. (Aqa’id Asy-Syi’ah, hal. 73).
Tentu saja akidah yang buruk lagi jelek ini sangat berlawanan apa yang telah Allah ta’ala firmankan bahwa sesungguhnya manusia tidak akan kembali ke dunia setelah nyawa diambil. Hal ini tercantum dalam al-Qur’an sampai hari kiamat nanti. Firman-Nya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. al-Mu’minun: 99-100)

4. Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak)

Di antara agama yang paling aneh bin ajaib memang agama Syi’ah. Akidah yang berlawanan dengan syariat Islam dan bahkan orang yang mempuyai akal sehatpun tidak akan membenarkan apa yang telah mereka usung. Di antara kesesatan agama Syi’ah adalah mereka membenarkan nikah mut’ah atau kawin kontrak. Yaitu seseorang datang kepada seorang perempuan untuk menikahainya dalam waktu tertentu dan dengan bayaran yang telah disepakati.
Diriwayatkan dari al-Kasyini dalam tafsirnya dengan bahasa Persia: “Yang perlu diketahui bahwasanya rukun dari nikah mut’ah dibangun di atas lima rukun: pria, perempuan, mahar,batas waktu dan kalimat ijab qobul.” (Buthlan ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 87)
Bahkan dengan beraninya mereka mengatakan atas nama Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam berkata: “Barangsiapa yang mut’ah sekali saja maka derajatnya seperti Husain, barangsiapa yang mut’ah dua kali maka derajatnya seperti Hasan, barangsiapa yang mut’ah tiga kali maka derajatnya seperti Ali bin Abi Thalib, barangsiapa yang mut’ah empat kali maka derajatnya seperti derajatku.” ??? Sayyid al-Alim berkata dalam ‘Ajaalah al-Hasanah: “Barangsiapa yang mut’ah dengan
seorang wanita maka bagi seperti berziarah ke ka’bah 70 kali.” (Aqa’id Syi’ah, hal. 77)
Kita berlindung dari kedustaan ucapkan mereka dengan mulut-mulut busuk mereka, padahal nikah mut’ah ini adalah zina yang nyata lagi jelas, dan hal ini banyak terjadi di Amerika an Eropa. Akibat dari pernikahan ini, terdapat kesulitan dalam memelihara nasab, dan yang selanjutnya akan tersia-siakan anak-anak hasil nikah tersebut. Nikah mut’ah pernah dibolehkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian pada perang Khaibar beliau mengaharamkan hal tersebut sampai hari kiamat.
Dalam riwayat Ali bin Abi Thalib disebutkan: “Dari Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu  bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam melarang nikah mut’ah paha hari Khaibar dan makan daging keladai kampung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Para Imam Syi’ah Terjaga dari Dosa dan Kesalahan

Para imam Syi’ah ma’shum (terjaga) dari kelengahan, keteledoran, kesalahan dan kelupaan. Mereka menimba ilmu langsung dari Allah tanpa perantara. Para imam tersebut mengetahui apa yang akan terjadi, semua makhluk tunduk kepada mereka, mengetahui kapan makhluk tersebut mati. Tidaklah mereka mati kecuali menurut kehendak mereka. Boleh berdoa meminta kepada mereka, beristigostah dan diperbolehkan pula peribadatan kepadanya. (Ushul Firaaq, hal. 41)
Kema’shuman para imam Syi’ah adalah kaidah dasar dalam keimaman. Hal tersebut merupakan prinsip utama dalam keyakinan Syi’ah. Hal tersebut mempunyai keutamaan yang sangat besar menurut mereka. Mereka telah bersepakat -sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Majlisi-: “Sesungguhnya para imam Syi’ah ma’shum dari dosa kecil maupun besar. Secara asal tidaklah terkena dosa, baik lupa maupun yang disengaja. Tidak adanya kesalahan dalam mentakwilkan dan tidak ada sifat lupa yang merupakan karunia dari Allah. (Mas’alah at-Taqriib, hal. 323)
Seorang ulama Syi’ah berkata: “Sesungguhnya keyakinan terjaganya para imam, menjadikan apa yang mereka katakan merupakan kebenaran tanpa disyaratkan, hal itu bersambung sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam, keadaan tersebut terdapat pada ahlus sunnah, hal tersebut dikarenakan para imam merupakan penerus kenabian sampai berakhirnya keimaman. (Mas’alah at-Taqriib, hal. 255)
Berkata Khomeni dalam kitabnya yang berjudul al-Hukumaat al-Islamiyyah: “Sesungguhnya para imam kami mempunyai kedudukan yang tidak dapat digapai oleh malaikat terdekat dan Para Nabi yang diutus.” (Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 46)

6. Penyimpangan al-Qur’an

Buku-buku induk Syi’ah telah sepakat akan kemunafikan para sahabat ketika menghapus mushaf-mushaf, para sahabat juga menghapus ayat-ayat dan kalimat-kalimat dalam al-Qur’an yang turun kepada Ali bin Abi Thalib dan anak-anaknya. Para sahabat Nabi juga telah banyak merubah susunan ayat, sampai kelihatan banyak yang hilang dan ketidaksesuaian dalam kalimat-kalimat al-Qur’an al-karim. Al-Majlisi berkata: “Sesungguhnya kabar tentang perubahan al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir sebagaimana kabar tentang kewalian dan akidah Raj’ah.” (al-Wasi’ah fi Naqdi (Aqo’id asy-Syi’ah, hal. 151)
Menurut mereka mushaf yang sebenarnya adalah mushaf Ali bin Abi Thalib yang diwariskan kepada imam yang kedua belas yang masuk ke dalam gua. al-Qur’an Syi’ah isinya tiga kali dari al-Qur’an sekarang dan tidak ada satu huruf pun seperti al-Qur’an sekarang. Mereka menamakannya juga dengan mushaf Fatimah dan mereka berusaha untuk mengumpulkannya melalui riwayat-riwayat yang palsu dari para imam Syi’ah. (Ushul Firaq, hal. 41-42)
Keyinanan mereka sangat berlawanan dengan keyakinan kaum muslimin yang menyatkan bahwasanya al-Qur’an telah terjaga sampai hari kiamat nanti. Firman-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. al-Hijr: 9)
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapakan bahwa Dia yang menurunkan adz-Dzikr yaitu al-Qur’an dan Dia pula yang menjaganya dari perubahan dan penyelewengan. (Tafsir Al-Qur’anil Adzim 8/246 ).
Dalil ini (ayat di atas) dijadikan dasar kafirnya agama Syi’ah oleh Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah. (Aqa’id as-Syi’ah, hal. 107) Bersambung insya Allah.
[Oleh: Aulia Ramdanu]
Buletin Al-Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s