MENGENAL SEKILAS TENTANG AGAMA SYI’AH (bagian terakhir)

Telah disampaikan pada edisi sebelumnya empat akidah sesat agama Syi’ah, yaitu: Akidah Raj’ah (reinkarnasi), Nikah Mut’ah (kawin kontrak), Para Imam Syi’ah Terjaga dari Kesalahan, dan Penyimpangan al-Qur’an. Berikut lanjutan dari akidah rusak mereka. Selamat menyimak.
 

7. Akidah Sesat Terhadap Imam Dua Belas Syi’ah

Pengikut agama Syi’ah menyakini adanya dua belas imam dari kalangannya, dan bahwasanya para imam tersebut telah terpilih dan tertulis di dalam wahyu. Sebagaimana wahyu berkata, sesungguhnya yang menjadi imam adalah fulan kemudian fulan. Sebagaimana wahyu tersebut datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu pun juga diwahyukan kepada wali. Wali tersebut diangkat melalui wahyu.
Imam kedua belas tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, Husen, kemudian setelah mereka dari anak keturunan keduannya. Sebagaimana Hasan kemudian saudaranya setelah Husein, kemudian menjadikan imam dari anak paling besar. Mereka menetapkan keimaman Husein bin Ali kemudian Ali Zainal Abidin bin Husen, kemudian Muhammad bin Zainal Abidin, kemudian Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin, kemudian Muhammad al-Jawad bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin, kemudian Ali al- Hadiy bin Muhammad bin Ali, kemudian Hasan al-Askariy bin Ali bin Muhammad, kemudian Muhammad al-Hadiy bin Hasan al-Askary yang beliau tersebut merupakan imam yang kedua belas yang tidak mempuyai wujud yang jelas.
Mereka menyakini dia sebagai anak kecil kemudian masuk ke dalam gua untuk menyempurnakan keimaman yang dua belas. Orang-orang Syi’ah telah melampaui batas dalam mengagungkan imamnya sampai menjadikannya ke derajat ma’shum, kemudian menjadikan mereka seperti derajat para Nabi, kemudian menganggap mereka lebih mulia daripada para Nabi, kemudian menganggap mereka mempunyai sesuatu seperti sesembahan selain Allah, setelah itu mereka memberikan sifat ketuhanan. Ini merupakan perbuatan melampaui batas kaum Syi’ah yang menunjukkan penyimpangan akidah Syi’ah Dua Belas Imam. (Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 24)
Yang lebih ghuluw lagi sampai ada yang berkata: “Sesungguhnya para imam kami telah sepakat akan terjaga dari dosa kecil dan besar baik dengan sengaja, bersalah ataupun lupa, sejak dilahirkan sampai bertemu dengan Allah ‘azza wa jalla.” (Ushul Mazhab asy-Syi’ah al- Imamiyyah al-Itsna al-‘Asyara, hal. 781)
Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah sepakat tidak ada yang ma’shum kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi yang lainnya. Dan tidak ada yang maksum setelah Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam. Dalam al-Qur’an Allah ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’: 59)
Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya Minhajus Sunnah berkata: “Tidaklah Allah memerintahkan kita untuk mengembalikan permasalahan kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalau seandainya ada seorang yang ma’shum selain Nabi, maka Allah akan memerintahkan kita untuk mengembalikan permasalahn tersebut kepadanya. al-Qur’an telah menujukkan bahwa tidak ada yang maksum setelah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam.

8. Pengkafiran Terhadap Para Sahabat Nabi

Syi’ah mencela para sahabat Nabi shallahu ‘alahi wasallam dengan celaan yang sangat buruk, menuduh dengan kedustaan, pengkhainatan bahkan dengan kekafiran atau kemurtadan kecuali segelintir dari mereka. Syi’ah memandang di antara kesempurnaan akidah mereka adalah celaan terhadap para sahabat, penghinaan dan menyifatkannya dengan sifat yang paling buruk.
Kaum Syi’ah mengembalikan hal tersebut dari riwayat yang banyak yang diambil dari para imamnya dalam mencela para sahabat. Tidak ada yang selamat dari celaan tersebut seorangpun dari kalangan pembesar pasa sahabat, istri-istri nabi, dan sepuluh orang yang dijamin masuk syurga yang di antaranya terdapat Abu Bakar, Umar, dan para sahabat yang lainnya.
Al-Kisyi berkata dari Imam Ja’far ia berkata: “Manusia pada zaman sahabat menjadi orang-orang yang murtad kecuali tiga saja maka saya berkata: siapakah tang tiga tersebut? Kemudian berkata : Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan Salman al-Farisy. Hal tersebut terdapat dalam perkataan Allah ‘azza wa jalla: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S Ali –Imran 144). (Aqa’id as-Syi’ah, hal. 84 )
Ali bin Ibrahim al-Qummy -ulama mereka- berkata: “ Tidak ada yang tersisa dari sahabat Nabi Muhammad kecuali mereka orang munafiq kecuali sedikit darinya. Ali bin Hasan ketika ditanya tentang Abu Bakar dan Umar maka ia menjawab: “Sesungguhnya keduanya telah kafir, barangsiapa yang mencintainya maka ia kafir juga” (Buthlan Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 65 & 68)

9. Penghalalan Darah dan Harta Kaum Muslimin

Menurut Syi’ah harta kaum muslimin hukumnya adalah halal. Mereka berhak mengambil dengan cara apapun. Maka bukan hal yang asing lagi ketika pembantaian, pengrusakan dan penghacuran sarana dan prasarana kaum muslimin merupakan santapan sehari-harinya. Telah banyak tinta sejarah yang menulis tentang kebiadaban agama Syi’ah dari masa ke masa. Siapakah yang menyebabkan kaum Tartar yang dipimpin Jengis Khan masuk ke negeri kaum muslimin dan membantai kaum muslimin saat itu? Tidak lain karena ulah Nasruddin ath-Thuusy semasa Daulah Bani Abbas, akibat ulah pengkhianat ini jutaan nyawa kaum muslimin pada saat itu melayang. Hal ini telah terulang kembali di mana saudara-saudara kaum muslimin di Suriah, Lebanon, Yaman dan lain-lainnya.
Penghalalan darah kaum muslimin keluar dari mulut busuk mereka. Diriwayatkan al- Qummy dalam bukunya yang berjudul (‘Ilal asy-Syara’i’, hal 601) dari Dawud bin Firaq berkata: “Saya berkata kepada Abi Abdilllah ‘alaihisslam: “Apa pendapatmu tentang pembununuhan an- Nawaashib? maka ia berkata: “Halal darahnya, akan tetapi bertaqiyyahlah, jika engkau sanggup untuk melempar atasnya dengan dinding atau engkau menggelamkan ke dalam air supaya tidak ada yang menyaksikan perbuatanmu, maka lakukanlah.” Kemudian aku (Dawud) bertanya lagi: “Bagaimana pendapatmu dengan hartanya?” Ia menjawab: “Ambillah apa engkau sanggup.” (Mauqif asy-Syi’ah min Ahli Sunnah, hal. 41-43)
Dari Abi Bashir dari Abi Abdillah ia berkata: “Sesungguhnya Nabi Nuh membawa dalam perahunya anjing dan babi, namun tidak dibawa di dalamnya anak hasil zina. Orang muslim lebih buruk dari pada anak zina. (Aqa’id asy-Syi’ah, hal.95)

10. Akidah Thiniyyah

Yang dimaksud dengan thiniyyah menurut orang Syi’ah adalah tanah kuburan Husain radiyallahu ‘anhu. Seorang Syi’ah berkata: dalam tanah kuburan Husain terdapat obat dari berbagai macam penyakit. Hal tersebut merupakan obat yang mujarab. Kaum Syi’ah menganggap bahwasanya mereka diciptakan dari tanah khusus. Adapun orang sunni diciptakan dari tanah jenis lain, kemudian terjadi percampuran di antara dua tanah dengan tujuan tertentu. Jika ada orang dari kelompok Syi’ah yang menjadi pelaku maksiat dan dosa besar itu merupakan pengaruh dari tanah orang sunni, adapun jika ada orang sunnni yang baik dan amanat maka hal tersebut pengaruh dari tanah orang Syi’ah. Pada hari kiamat nanti keburukan dan dosa-dosa yang membinasakan akan ditimpakan kepada ahlus sunnah dan kebaikan ahlus sunnah akan diberikan kepada Syi’ah. (Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 71)\

Perkataan Ulama Sunnah Tentang Agama Syi’ah

Berkata Imam Ibnu Hazm al-Andalusi rahimahullah: “Adapun perkataan mereka -yaitu Nasrani- dakwaan Syi’ah atas perubahan al-Qur’an. Sesungguhnya Rofidhoh Bukan dari kaum muslimin, sesungguhnya mereka adalah suatu kelompok yang muncul setelah 25 tahun wafatnya nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam. Ini adalah suatu kelompok yang berjalan di atas akidah Yahudi dan Nasrani dalam kedustaan dan kekufuran (al-Fashl fi al-Milal wa al- Ahwa’ wa an-Nihal, 2/213)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa: Sesungguhnya Syi’ah Rofidhoh lebih buruk dari pada pengikut hawa nafsu dan lebih berhak dibunuh dari pada khowarij.
Ali bin Sulthon al-Qari rahimahullah menuturkan: “Adapun yang mencaci seorang dari sahabat nabi maka ia adalah fasik, ahli bid’ah dengan kesepakatan ulama, kecuali jika ia berkeyakinan sesungguhnya hal tersebut mubah sebagaimana hal ini terjadi disebagian orang- orang Syi’ah dan teman-temannya atau memperoleh darinya pahala sebagaimana kebiasaan perkataan mereka atau menyakini kekafiran para sahabat dan ahlus sunnah, maka ia kafir dengan kesepakatan ulama.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang firman Allah ta’ala di dalam surat al-Fath ayat 29: “Imam Malik mengambil ayat ini -yang diriwayatkan darinya- tentang pengkafiran kaum Syi’ah yang membenci Para Sahabat radhiyallhu ‘anhum. Dikarenakan mereka membenci para sahabat. Barangsiapa yang membenci para sahabat maka ia telah kafir dengan ayat ini.
Hal inipun disetujui oleh sebagian para ulama (Tafsir Ibnu Katsir 13/135) Al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts wa al-Ifta’ (Lembaga Riset dan Fatwa) Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa No. 8564. Pertanyaan: “Apa keputusan anda terhadap Syi’ah? Khususnya yang mengangkat Ali bin Abi Thalib ke derajat kenabian dan malaikat jibril telah bersalah dalam menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam?” Jawaban: “Segala puji hanya untuk Allah semata dan sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam dan setelahnya: Syi’ah terbagi menjadi kelompok yang banyak dan barangsiapa yang mengatakan sesungguhnya Ali bin abi Thalib mencapai ke dalam derajat kenabian atau malaikat jibril tersalah dalam menyampaikan wahyu maka ia telah kafir.”

Penutup

Demikianlah dari segudang koleksi dan serba-serbi kesesatan dan keanehan agama Syi’ah. Sungguh secuil dari tuilisan ini tidaklah dapat mewakilkan aneka ragam kesesatan yang dianut oleh agama ini. Agama yang dibangun dengan pondasi kekufuran, diatapi dengan sejuta kedustaan dan dihiasi dengan kemunafikan. Kalau seiandainya kesesatannya dikorek satu persatu, maka tidak ada habisnya. Kami menganjurkan sidang pembaca untuk merujuk ke buku-buku para ulama. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan pengetahuan kepada kaum muslimin akan jauh agama Syi’ah dari agama Islam. Dan Islam berlepas diri dari Syi’ah. Semoga Allah melindungi diri, keluarga dan negeri Indonesia tercinta ini dari makar Syi’ah. Semoga Allah benar-benar menghancurkan agama Syi’ah ini. Amin. [Oleh: Aulia Ramdanu]
Buletin Al-Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s