MERAIH NIKMATNYA IMAN

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
Ada tiga perkara, siapa yang memiliki ketiganya, niscaya akan merasakan manisnya iman; 1- Allah dan rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, 2- ia mencintai dan membenci seseorang karena Allah, 3- dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilempar ke dalam api neraka.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
 
Hadits ini begitu agung karena di dalamnya terdapat kandungan makna-makna yang agung dan pokok-pokok yang merupakan dasar keimanan, yaitu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, saling mencintai di antara kaum muslimin, dan keteguhan di atas keimanan dengan membenci terhadap kekufuran karena khawatir kalau dilempar ke dalam api neraka. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama mengatakan bahwa manisnya iman adalah merasa nyaman pada saat melaksanakan ketaatan dan menanggung kesulitan dalam menggapai keridhaan Allah dan Rasul-Nya, serta mendahulukan itu semua di atas kemewahan dunia. Kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya, yaitu dengan cara mengerjakan ketaatan kepada-Nya dan tidak menyelisihi-Nya. Demikian juga dengan kecintaan kepada Rasulullah.”
(Syarh Shahih Muslim)

A. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya

Di antara bentuk kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mencintai syariat dan agama-Nya yang telah disebutkan dalam kitab-Nya yang mulia dan yang telah dijelaskan oleh Rasul-Nya dalam sunnahnya yang diberkahi. Rasulullah bersabda, “Pasti akan bisa merasakan manisnya iman bagi orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya.” (HR. Muslim, no: 34)
Ibnul al-Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Ighatsatu al-Lahfan, “Sesungguhnya cinta kepada Allah, senang dengan-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya dan ridha dengan segala yang ditetapkan oleh-Nya, merupakan asas agama, asas bagi amal perbuatannya, keinginannya, dan bagi kecintaannya kepada Allah. Bahkan sikap kecintaan ini merupakan kewajiban yang paling dicintai oleh seorang hamba dari segala macam kewajiban-kewajiban besar yang ada dalam agama. Selain itu, juga merupakan pondasi yang paling besar dan dasar yang paling agung. Jadi, siapa saja yang mencintai seorang makhluk dan memposisikan cintanya sama seperti yang diberikan kepada Allah, maka ini termasuk kesyirikan, yang pelakunya tidak akan diampuni sekaligus tidak diterima amal perbuatannya. Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimanamereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”(QS. al-Baqarah (2): 165)

B. Mencintai seseorang karena Allah

Tanda kesempurnaan iman seseorang adalah apabila segala sesuatunya didasari karena Allah, baik dalam hal cinta, benci, memberi ataupun hal-hal yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, tidak member karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani)
Sikap saling mencintai karena Allah dan membangun persaudaraan karena agama-Nya, akan membawa manfaat yang sangat besar bagi pelakunya, sehingga bisa mengumpulkannya di surga kelak bersama sahabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalian tidak akan masuk surga kecuali kalau kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman kecuali jika kalian saling berkasih sayang. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian mengerjakannya, kalian akan saling mengasihi? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Di antara bentuk kecintaan terhadap seseorang karena Allah adalah tidak menzhalimi, menghinakan, mendustakan dan meremehkan seorang muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh mendzaliminya, menghinakannya, mendustakannya, dan merendahkannya.” (HR. Muslim, no. 2580)
Adapun sikap kasih sayang dan kecintaan para pelaku maksiat dan orang-orang fasik, maka sesungguhnya semua itu akan berubah menjadi permusuhan dan kebencian. Dalam banyak perkara, pertentangan di antara mereka kerap terjadi dalam kehidupan di dunia ini. Adapun di akhirat kelak, Allah telah menggambarkan kepada kita semua. Allah berfirman: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf (43) : 67)
C. Teguh dalam keimanan dan membenci kekufuran
Seorang yang merasakan manisnya iman, niscaya teguh dalam keimanannya dan tidak menghendaki kekufuran. Orang-orang yang beriman sangat meyakini janji-janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta mereka yakin akan ancaman-ancaman Allah terhadap orang yang ingkar dan berbuat kerusakan. Oleh karena itu, kita pernah mendengar atau membaca kisah segolongan umat yang memilih dilempar ke dalam kobaran api daripada kembali kepada kekufuran.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. al- Baqarah (2) : 217)
Fitnah dalam ayat ini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan kaum muslimin. Dalam ayat yang lain Allah berfirman: Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS an-Nahl (16) : 106)
Semoga kita dapat mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi cinta kita kepada selain keduanya. Semoga kecintaan kita kepada sesama atas dasar kecintaan kepada Allah, sehingga kecintaan terhadap keluarga, harta dan saudara tidak melalaikan dari ibadah kepada Allah. Kita juga memohon kemantapan dalam beriman, dan janganlah kita meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan beriman dan beragama islam. Amin
Oleh : Abu Hisyam Liadi
Buletin Al-Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s