ISLAM MEMBENCI TERORISME

Setiap orang yang hidup di dunia ini memiliki harapan. Di antara sekian harapan yang ia idam-idamkan adalah hidup di dunia dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan menjadi harapan seluruh manusia, baik muslim maupun non muslim. Akan tetapi, seorang muslim mengharapkan kebahagiaan yang jauh lebih istimewa dari pada kehidupan dunia yang bersifat sementara, yaitu kebahagiaan yang kekal abadi di dalam surga Allah ta’ala.
 
Namun ironisnya, dalam menggapai kebahagiaan tersebut, ada sekelompok manusia yang menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka ingin mewujudkan kebahagiaan, namun tidak sesuai tuntunan. Mereka mengharapkan dapat bersuka cita, namun dengan tindakan yang tidak dihalalkan oleh Allah azza wa jalla. Mereka bermimpi akan hidup kekal di dalam surga sekaligus menjadi para pengantin bidadari- bidadari surga, tapi dengan cara melakukan tindak kriminal yang dikutuk oleh umat Islam di seluruh dunia. Mereka melakukan teror dan mengancam masyarakat dengan meledakkan fasilitas-fasilitas umum, merampok, membunuh, membuat keresahan, keonaran, kegelisahan, keributan, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.
Ketahuilah, tindakan brutal seperti ini tidak diajarkan oleh Islam. Tindakan teror tersebut tidak pernah pula dicontohkan oleh Rasulullah n. Meskipun mereka memandang perbuatannya itu baik, walaupun mereka meyakini bahwa tindakannya itu bagus, namun sesungguhnya semua itu adalah amalan yang sia-sia belaka. Bak seorang yang mengejar fatamorgana. Sampai kapanpun ia tidak akan dapat mendekati, apalagi sampai memegangnya.
Allah ta’ala befirman: Katakanlah: “Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat dengan sebaik-baiknya. (QS. al-Kahfi: 104)
Maka itu, pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan bahwa Islam membenci terorisme dengan menjabarkan beberapa sisi kesalahan dan kesesatan para pelakunya -dan sisi-sisi yang lainnya masih begitu banyak-.

SISI PERTAMA: ISLAM MENGHARAMKAN KEZHALIMAN

Ketahuilah, agama Islam mengharamkan tindakan kezhaliman dan aniaya, baik dengan perkataan ataupun perbuatan, apalagi bila sampai melayangkan jiwa orang lain.
Dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim, Allah ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan kezhaliman tersebut haram pula di antara kalian, maka itu janganlah kalian saling menzhalimi. Rasulullah n bersabda: “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak boleh menzhaliminya, mencampakkannya dan tidak boleh pula ia meremehkannya.” (HR. Muslim)
Justru sebaliknya, Islam mengajarkan agar seorang muslim tidak mengalamatkan gangguan kepada sesama muslim; baik gangguan dengan ucapan maupun gangguan dengan perbuatan. Coba perhatikan sabda Nabi n berikut ini: Seorang muslim itu adalah apabila orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi v, muslim itu ialah yang tidak mengganggu atau menyakiti muslim lainnya, baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan. (Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, jilid 2, hlm. 10)
Rasulullah n juga bersabda: Iman itu berjumlah enam puluh atau tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu salah satu dari cabang keimanan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas mengisyaratkan agar gangguan dari tengah jalan disingkirkan, sekecil apapun itu. Lantas, bagaimana dengan menyingkirkan benda yang jelas berbahaya seperti bom dari jiwa kaum muslimin, yang mana itu dapat menghilangkan anggota badannya, membuatnya cacat, atau bahkan bisa melayangkan nyawanya.
Tentu hal itu lebih utama dan lebih wajib untuk disingkirkan. Dari sini kita ketahui, bahwa tindakan para teroris yang membombardir fasilitas-fasilitas umum dengan label jihad adalah perbuatan terkutuk yang dibenci oleh Islam. Di satu sisi mereka telah berbuat zhalim, di sisi lainnya mereka telah menyelisihi kandungan hadits Nabi n di atas.

SISI KEDUA: ALLAH MENGANCAM ORANG YANG MEMBUNUH SEORANG MUSLIM DENGAN SIKSA KEKAL ABADI DI NERAKA JAHANAM

Hal ini sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan dalam al-Qur`an:
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya. (QS. an-Nisa`: 93)
Ibnu Katsir v berkata: “Ini adalah ancaman yang begitu keras dan tegas bagi siapa saja yang melakukan dosa besar seperti ini.” (Tafsir Ibn Katsir, surat an-Nisa`: 93)
Perhatikanlah, orang zhalim tersebut diancam dengan beberapa hal berikut: (1). Kekal di neraka Jahanam, (2). Murka Allah, (3). Laknat Allah, (4). Adzab yang pedih.
Wal‘iyadzu billah.
Rasulullah n menjelaskan bahwa membunuh jiwa orang lain tanpa hak merupakan salah satu dosa besar yang wajib dijauhi. Beliau n bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang dapat membinasakan. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa saja itu? Beliau menjawab: Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haknya, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang suci berbuat zina.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sungguh, hilangnya dunia ini lebih ringan dari pada melayangnya sebuah jiwa muslim. Rasulullah n bersabda: Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah dari pada melayangnya jiwa seorang muslim. (Hadits shohih. Misyat al-Mashobih, no. 3462, Shohih al-jami’, no. 5077)

Membunuh Kafir Mu’ahad

Tindakan pengeboman yang mereka lakukan itu bukan hanya menelan korban dari kaum muslimin, akan tetapi juga banyak menghilangkan nyawa wisatawan luar negeri non muslim yang mu’ahad, yaitu yang diberikan jaminan keamanan oleh negara Indonesia. Ketahuilah, hal ini tidak diperbolehkan oleh Rasulullah n.
Beliau n bersabda:
Siapa yang membunuh kafir mu’ahad niscaya tidak akan mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga itu sudah tercium sejauh perjalanan empat puluh tahun. (HR. Bukhari)
Perhatikanlah, orang yang melakukan tindakan buruk ini tidak akan mencium wanginya surga. Sebaliknya dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka.
Na’udzu billah min dzalik.

SISI KETIGA: MENEROR ORANG LAIN HUKUMNYA HARAM

Meneror atau menakut-nakuti orang lain hukumnya adalah haram. Pernyataan ini sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah n dalam sabda beliau: Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti atau menteror muslim lainnya. (Misykat al-Mashobih, no. 3545)
Al-Munawi v menjelaskan, meskipun tujuannya hanyalah sekedar bercanda, maka hal itu sama saja tidak dibolehkan. (Faidhul Qodir, jilid 6, hlm. 447)
Jangankan menakut-nakuti atau meneror, hanya sekedar menunjuk saudaranya dengan senjata atau benda tajam ternyata hukumnya tidak boleh. Nabi n bersabda: Janganlah seorang dari kalian menunjuk saudaranya dengan senjata, sebab ia tidak tahu, karena setan bisa saja menarik tangannya (hingga ia membunuhnya), sehingga ia terjerumus ke dalam sebuah lubang neraka. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan malaikat melaknat orang yang berbuat demikian. Rasulullah n bersabda: Barang siapa mengarahkan sepotong besi atau senjata kepada saudaranya, maka malaikat mengutuknya hingga ia menyudahi perbuatannya itu. (HR. Muslim)

SISI KEEMPAT: BUNUH DIRI DALAM ISLAM HUKUMNYA HARAM

Ketahuilah, bunuh diri dalam Syariat Islam hukumnya adalah haram, baik dengan dalih jihad, bom mati syahid atau yang lainnya. Allah ta’ala befirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa`: 29)
Firman-Nya: “Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah: 195)
Rasulullah n bersabda: Barang siapa yang bunuh diri dengan suatu benda, maka ia akan disiksa dengan benda itu pada hari kiamat. (HR. Muslim)
Beliau n juga menerangkan: “Barang siapa bunuh diri dengan sepotong besi, maka potongan besi itu akan ada di tangannya, dengannya ia akan menusuk-nusuk perutnya di neraka jahanam, ia kekal selama-lamanya di dalamnya. Dan barang siapa yang bunuh diri dengan racun, maka ia akan meneguk racun itu di neraka jahanam, ia kekal selama-lamanya di dalamnya. Dan barang siapa yang melemparkan diri  dari gunung atau tempat tinggi untuk bunuh diri, maka ia akan terlempar ke neraka jahanam, ia kekal selama-lamanya di dalamnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits-hadits di atas dengan tegas menjelaskan ancaman masuk neraka bagi siapa saja yang melakukan tindakan bunuh diri. Bahkan, di antara bentuk ancaman tersebut, Allah akan mengekalkan dirinya di neraka selama-lamanya. Wal ‘iyadzu billah.

SISI KELIMA: TINDAKAN TERORISME MENCORENG NAMA BAIK ISLAM

Ketahuilah, tindakan gegabah dan brutal yang dilakukan oleh para teroris telah mencoreng nama baik Islam. Demikian pula mencoreng nama baik kaum muslimin yang berusaha menerapkan Syariat Islam dalam keseharian mereka. Perbuatan tersebut berimbas kepada mereka yang berusaha menjalankan ajaran Islam sesuai dengan tuntunan dan petunjuk Rasulullah n.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin v berkata: “Tidak diragukan lagi, perbuatan ini tidak diridhai oleh setiap orang yang berakal, terlebih lagi oleh orang yang beriman!! Tindakan ini tidak diridhai oleh seorangpun lantaran menyelisihi ajaran al-Qur`an dan as-Sunnah. Sebab, hal tersebut dapat berakibat buruk terhadap agama Islam, baik dari sisi dalam maupun dari luar. Sebab, setiap orang yang mendengar kabar ini, ia tidak akan menyandarkan perbuatan ini melainkan kepada orang-orang yang komitmen dan berpegang teguh dengan ajaran Islam. Dengan serta merta mereka berkata, “Seperti itukah orang-orang islam!!?? Seperti inikah akhlak Islam??!!” Padahal, sebenarnya Islam berlepas diri dari tindakan buruk ini. Dan para pelaku tindakan ini, sebelum berbuat tidak baik kepada siapa saja, pada hakekatnya mereka telah berbuat tidak baik terhadap agama Islam. Kita memohon kepada Allah, agar membalas perbuatan buruk itu dengan balasan yang setimpal.” (al-Faidah min Fatawa al-Ulama`, Muhammad bin Fahd al-Hushayyin, hlm. 28)

PENUTUP

Setelah menjelaskan beberapa poin di atas kita dapat mengetahui, bahwa tindakan teror-meneror bukanlah termasuk dari ajaran Islam. Sebaliknya, Islam dan kaum muslimin berlepas diri dari perbuatan buruk tersebut. Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah buruk tersebut dan senantiasa menjaga kita di atas jalan yang lurus.
(Oleh: M. Sulhan Jauhari) Buletin Al-iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s