NILAI MULIA SEBUAH NASIHAT

Islam adalah agama penuh rahmat dan kasih sayang, tidaklah Allah subhanahu
wa ta’ala mensyariatkan sesuatu melainkan untuk mengeluarkan manusia dari
kegelapan menuju cahaya, kebodohan menuju ilmu, kemaksiatan menuju ketaatan,
kesesatan menuju petunjuk serta dari keburukan menuju kebaikan. Segala hal yang
Allah ta’ala syariatkan, di dalamnya terdapat manfaat dan kebaikan yang sangat
besar yang dapat dirasakan oleh umat manusia di dunia maupun di akhirat, meskipun
terkadang syariat tersebut terasa pahit oleh sebagian manusia. Di antara perkara yang
disyariatkan Allah demi kemaslahatan manusia adalah nasihat, karena nasihat memiliki
keutamaan yang sangat besar.

Seorang muslim yang baik, mengharap agar tidak ada maksiat di dunia ini,
sehingga manusia semuanya menjadi baik serta taat kepada Allah subhanahu wa
ta’ala. Namun, sudah menjadi ketetapan Allah ta’ala bahwa tidak ada manusia di
muka bumi ini yang tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan. Oleh karena itu Islam
mensyariatkan adanya nasihat bagi kita kaum muslimin, agar nasihat tersebut menjadi
sarana yang bisa membantu manusia dalam menjauhi maksiat dan meninggalkannya,
serta menjadi bumerang atas pelaku maksiat di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala
kelak pada hari kiamat.

INDAHNYA NASIHAT

Termasuk keindahan dan keistimewaan agama Islam adalah mendasari
semua perkataan ataupun perbuatan dengan dalil. Berikut ini beberapa dalil yang
menunjukkan disyariatkannya saling nasihat menasihati dalam Islam.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-
orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya
mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Asr:
1-3)

Maka barang siapa yang tidak ingin merugi di dunia maupun akhirat, hendaknya dia
beriman dan beramal shalih yaitu amalan yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan

apa yang diajarkan oleh Rasullullah n, serta saling nasihat menasihati dalam menetapi
kebenaran dan kesabaran.
Dalil kedua: Rasulullah n bersabda:

“Agama itu nasihat.” (HR. Muslim no. 55)
Dalil ketiga: Dari sahabat Jarir bin Abdullah radiallahu anhu ia berkata:

Aku berbai’at (berjanji setia) kepada Rasulullah n untuk mendirikan shalat,
menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim. (HR. Bukhari no. 57)
Ini merupakan dalil yang sangat jelas yang menunjukkan akan disyariatkannya
nasihat, karena ia termasuk dari apa yang Rasulullah n perintahkan kepada para
sahabat ketika berba’iat kepada beliau.
Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menjelaskan tentang kedudukan
nasihat dalam Islam, semoga dengan tiga dalil di atas hati kita menjadi mantap untuk
melaksanakan syariat yang mulia ini.

MENASIHATI PUN ADA ADABNYA

Seperti syariat yang lainnya, nasihat juga memiliki adab-adab atau etika. Dan
hendaknya seseorang yang akan menasihati saudaranya memperhatikan adab-adab
tersebut agar nasihat itu biasa lebih bermanfaat dan diterima. Adab-adab tersebut
antara lain adalah:

Pertama: Ikhlas.
Ini adalah adab nasihat yang paling penting yaitu hendaknya seorang pemberi
nasihat hanya mengharapkan keridaan Allah ta’ala ketika menasihati. Tujuannya
bukanlah materi. Bukan pula agar dilihat orang atau didengar bahwa dia adalah orang
yang terkenal suka menasihati orang lain. Allah ta’ala berfirman:

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan
mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. al-
Bayyinah: 5)

Kedua: Memperhatikan situasi dan kondisi.
Meskipun pemberi nasihat ikhlas dalam menasihati, namun bila ia tidak
memperhatikan keadaan orang yang akan dinasihati maka jangan menyesal kalau
nasihatnya tidak dihiraukan. Maka dari itu pemberi nasihat harus pandai-pandai
memilih situasi dan kondisi yang tepat.

Ketiga: Hendaknya orang yang dinasihati dalam keadaan sendiri.
Janganlah kita menasihati seseorang yang berbuat salah di depan orang banyak
karena tidak ada seorangpun yang senang jika kejelekannya diketahui oleh orang lain.

Keempat: Memiliki ilmu dalam hal yang ingin ia nasihatkan.
Selayaknya bagi pemberi nasihat untuk memiliki ilmu dalam hal yang akan ia
nasihatkan. Dengan mempunyai dalil-dalil dari al-Qur`an maupun hadits, maka hal itu
dapat membantu diterimanya nasihat tesebut. Karena terkadang orang yang dinasihati
mempunyai argumen yang kuat untuk menolak nasihat tersebut.

Kelima: Menggunakan metode yang baik dan penuh hikmah.
Allah ta’ala memerintahkan Rasulullah n agar menyeru manusia dengan
metode yang baik dan penuh hikmah. Sebab menggunakan metode yang baik lebih
membuat orang yang dinasihati lapang dada dalam menerima kebenaran yang kita
sampaikan.

Keenam: Hendaknya tujuan dari nasihat itu bukan untuk menghina atau merendahkan orang yang dinasihati.

Satu hal yang sangat penting dalam menasihati adalah memberikan pengertian
kepada orang yang dinasihati bahwa maksud dari nasihat ini adalah tulus hanya
menginginkan kebaikan bagi dirinya dan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, bukan
untuk meminta balasan apapun dari dirinya. Hal yang mendorongnya menasihati
adalah khawatir akan murka Allah yang akan menimpanya. (Disadur dari an-Nasihat
Syurutuha wa Dhawabituha karya Abdul Aziz bin Ahmad al-Masud)

JIWA BESAR ORANG YANG DINASIHATI

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, baik disadari ataupun tidak.
Oleh karenanya nasihat itu diperlukan dan harus ada dalam kehidupan manusia.
Dan hendaknya bagi orang yang bersalah atau melakukan dosa untuk siap
menerima nasihat dan berlapang dada ketika saudaranya menasihati dirinya. Dia
harus menanamkan pada dirinya bahwa setiap peringatan atau nasihat itu sangat
bermanfaat bagi dirinya.
Allah ta’ala berfirman:

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat
bagi orang-orang mukmin.” (QS. adz-Dzariyat: 55)

Dia juga harus menyadari bahwa nasihat yang diterimanya adalah bukti cinta
dan perhatian saudaranya kepada dirinya, itu juga berarti masih ada orang yang peduli
kepadanya, menginginkan kebaikan untuk dirinya.

Sudah sepantasnya ia berterima kasih kepada saudaranya atas nasihat
yang telah diberikan kepadanya. Bila ia berterima kasih kepada seseorang yang
mengabarkan suatu bahaya yang akan menghadangnya di jalan, sehingga dengan
kabar tersebut ia terlepas dari mara bahaya itu, maka bagaimana dengan seseorang
yang mengabarkan kepadanya akan bahaya yang akan ia dapatkan karena maksiat
yang ia lakukan berupa murka dan siksa Allah subhanahu wa ta’ala yang amat pedih.

PENUTUP

Semoga kita menjadi orang yang mendengarkan nasihat dan mengikutinya
dengan baik. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita yang mulia
Muhammad n, keluarganya para sahabat dan siapa saja yang mengikuti mereka
dengan setia. Wallahu a’lam.

[Oleh: Ikhwan Azka Mufid]

NASIHAT BAGI PEMBERI NASIHAT

Imam asy-Syafi’i v berkata:

Berilah nasehat kepada diriku ini tatkala sendiri
Dan jauhkan dari menasehatiku di tengah manusia

Sebab, memberi nasehat di hadapan mereka berarti
Penghinaan bagi diri, aku tak rela mendengarkannya
Andai kau tak terima dan durhaka dengan ucapanku ini
Janganlah berkeluh kesah, bila nasehatmu tidak diterima

Buletin Al-Iman, https://meraihsurgadenganilmuagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s