MENJAGA KEJUJURAN DALAM KESEHARIAN

“Hendaknya kalian berlaku jujur, sebab kejujuran itu membawa kepada kebaikan…”

Jujur dalam arti sempit ialah kecocokan antara ucapan dengan kenyataan. Dalam pengertian lebih luas, jujur berarti kesesuaian antara lahir dengan batin. Arti “orang yang jujur bersama Allah subhanahu wa ta’ala dan bersama sesama” adalah yang sesuai lahir dan batinnya. Karena itu orang munafik disebutkan sebagai kebalikan orang yang jujur. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan
menyiksa orang munafik…”  (QS. al-Ahzab: 24)
Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah ta’ala menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang melimpah bagi mereka. Termasuk dalam kejujuran adalah jujur kepada Allah ta’ala, kepada sesama manusia dan kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Senantiasalah kalian jujur, karena kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, akhirnya ditulis di sisi Allah subhanahu wa ta’ala sebagai seorang pendusta.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

Berikut ini adalah beberapa kiat untuk dapat senantiasa menjaga kejujuran:

TIDAK MEMBICARAKAN SETIAP YANG DIDENGARNYA

Hendaknya lisan kita senantiasa dipelihara dan dijaga, karena ketergelincirannya sangat banyak dan kejahatannya tak terhingga. Maka waspada darinya dan berhati-hati dalam menggunakannya merupakan sikap lebih bertakwa dan lebih wara` (berhati-hati dan menjaga diri). Apabila engkau menemukan seseorang yang banyak bicara dan tidak peduli terhadap omongannya, maka ketahuilah sesungguhnya ia berada dalam bahaya besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Cukuplah seseorang dipandang berdusta bila ia membicarakan semua yang didengarnya.” (HR. Muslim dan Abu Daud)
Alasannya, karena banyak bicara dapat menjerumuskan ke dalam kebohongan dengan menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Saat ia tidak mendapatkan bahan pembicaraan, atau dengan mengutip berita seseorang pendusta –sedangkan dia mengetahui-, maka ia termasuk salah seorang pembohong.

BIASAKAN BERKATA JUJUR

Setiap akhlak yang baik, bisa diusahakan dengan membiasakannya dan bersungguh-sungguh menekuninya, serta berusaha mengamalkannya, sehingga pelakunya mencapai kedudukan yang tinggi, naik dari tingkatan pertama kepada yang lebih tinggi darinya dengan akhlaknya yang mulia. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hendaknya kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa bersifat jujur dan menjaga kejujuran, maka ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur.”
Demikian pula perkara pembohong, ia akan disifati dengan kebohongan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan:

“Jauhilah kebohongan, karena kebohongan itu dapat membawa kepada kefasikan, dan sesungguhnya kefasikan membawa ke neraka. Senantiasa seseorang berbohong dan terus berbohong, sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pembohong.”  (HR. al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

Berapa banyak orang yang suka membual menjadi celaka dalam membuat-buat pembicaraan untuk menarik perhatian dan membuat cerita untuk membuat orang lain tertawa. Orang seperti ini akan binasa, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Celakalah bagi orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa, lalu ia berbohong, celakalah ia, celakalah ia.”  (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan. Jami’ al-Ushul 10/599 no. 8186)

BERKATA BAIK ATAU DIAM

Imam an-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) berkata, “Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas ada mashlahat-nya (manfaat dan kebaikannya). Tatkala berbicara atau tidak berbicara sama-sama ada mashlahat-nya, maka menurut Sunnah hendaknya kita menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret kepada perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini banyak atau dominan pada kebiasaan. Sedangkan keselamatan itu tiada bandingannya. Telah diriwayatkan kepada kami di dalam dua kitab Shahih; Shahih al-Bukhari (no. 6475) dan Shahih Muslim (no. 47), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” Aku katakan: hadits yang disepakati shahihnya ini merupakan dalil yang jelas bahwa sepantasnya seseorang tidak berbicara, kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak mashlahat-nya. Jika dia ragu-ragu tentang timbulnya mashlahat, maka dia tidak berbicara.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang menghendaki berbicara, maka sebelum berbicara hendaknya ia berpikir, jika tampak jelas mashlahat-nya maka silakan berbicara, namun jika ragu-ragu, hendaknya ia tidak berbicara sampai jelas kemashlahatan-nya.” (al-Adzkaar, 2/713-714, karya Imam an-Nawawi)

Syaqiq rahimahullah mengatakan, “‘Abdullah bin Mas’ud ber-talbiyah di atas bukit Shofa, kemudian mengatakan, ‘Wahai lidah, katakanlah kebaikan niscaya engkau mendapatkan keberuntungan, diamlah niscaya engkau selamat, sebelum engkau menyesal.’ Orang-orang bertanya, ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, ini adalah suatu perkataan yang engkau ucapkan sendiri, atau engkau dengar?’ Dia menjawab, ‘Tidak, bahkan aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya.‘”   (HR. Thabarani, Ibnu ‘Asakir, dan lainnya.
Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 534)

BERGAUL DENGAN ORANG-ORANG JUJUR

Banyak orang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.
Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi; Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan wanginya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”  (HR. al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628)

Imam Muslim rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam Bab: Anjuran Untuk Berteman dengan Orang Shalih dan Menjauhi Teman yang Buruk”.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi.

Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu dan adab. Sekaligus juga terdapat larangan bergaul dengan orang yang buruk, ahli bid’ah, dan orang-orang yang mempunyai sikap tercela lainnya.  (Syarh Shahih Muslim 4/227)

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan: “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”  (Fathul Bari 4/324)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu beliau memerintahkan kepada kita agar pandai memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan:

“Seseorang itu bisa terpengaruh agama teman dekatnya, maka itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no. 927)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: berakal, berakhlak baik, tidak fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus terhadap dunia.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36)

Agar hidupmu menjadi benar dan dikumpulkan bersama orang-orang jujur, maka jadikanlah lahir dan batinmu benar, demikian pula jadikanlah lisanmu lisan yang benar. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan rizqi kepadamu berupa langkah yang benar dan tempat yang benar. Kejujuran adalah ketegasan dan keterusterangan, sedangkan berpaling darinya adalah penyimpangan. Orang yang beriman akan selalu jujur, dan:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”  (QS. an-Nahl :105)

| Oleh: Liadi |

Buletin Al-Iman, https://meraihsurgadenganilmuagama.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s